Headlines News :
Home » » BERMAIN SAMBIL BELAJAR

BERMAIN SAMBIL BELAJAR

Written By pak dirman on Monday, August 24, 2015 | 5:26 AM

Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Salah satu ciri manusia berkualitas dalam rumusan UU No. 20 Tahun 2003 di atas adalah mereka yang tangguh iman dan takwanya serta memiliki akhlak mulia. Dengan demikian salah satu ciri kompetensi keluaran pendidikan nasional adalah ketangguhan dalam iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia.
Menurut Tafsir (2002), bagi umat Islam, dan khususnya dalam pendidikan Islam, kompetensi iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia tersebut sudah lama disadari kepentingannya, dan sudah diimplementasikan dalam lembaga pendidikan Islam. Dalam pandangan Islam, kompetensi iman dan takwa (imtak) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), juga akhlak mulia diperlukan oleh manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.
Berkaitan dengan hal di atas dunia pendidikan sedang mengalami krisis, perubahan-perubahan yang cepat seiring dengan perkembangan teknologi menjadi tantangan-tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan. Jika praktik-praktik pengajaran dan pendidikan di Indonesia tidak diubah, maka bangsa Indonesia akan ketinggalan oleh negara-negara lain.

Untuk merubah praktik-praktik pembelajaran dan pendidikan di sekolah-sekolah dalam mempersiapkan anak didik agar optimal dalam kehidupan bermasyarakat, maka proses dan model pembelajaran perlu diperbaharui terlebih dahulu.
Upaya pembaharuan proses tersebut terletak pada tanggung jawab guru, bagaimana pembelajaran yang disampaikan dapat dipahami oleh anak didik secara benar. Dengan demikian, proses pembelajaran ditentukan sampai sejauh mana guru dapat menggunakan metode dan model pembelajaran dengan baik. Model pembelajaran itu beraneka ragam, namun dalam pelaksanaan pembelajaran perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran dan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran.
Kenyataan di lapangan masih banyak siswa beranggapan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan pelajaran yang sulit, ditambah bahan ajar tidak dimiliki semua siswa. Hal ini berdampak pada hasil belajar Pendidikan Agama Islam yang kurang memuaskan. Salah satu kesulitan dalam proses pembelajaran adalah siswa merasa kesulitan dan kurang memahami materi pelajaran. Hal ini disebabkan metode dan model pembelajaran yang monoton sehingga siswa kurang tertarik dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam dan banyak siswa merasa jenuh dan mengabaikan pelajaran Pendidikan Agama Islam. Sebagai contoh  materi tentang Huruf Hijaiyah untuk kelas II Sekolah Dasar.
Materi tentang huruf hijaiyah merupakan salah satu bahan ajar yang membutuhkan daya ingat (ranah kognitif) untuk dihafalkan antara bentuk huruf dan lafalnya serta urutannya. Sementara itu pada usia siswa Sekolah Dasar, pembelajaran dengan menghafal merupakan suatu hal yang sangat sulit dilakukan, apalagi mengahafal tersebut masih menggunakan cara-cara yang konvensional. Tentunya dengan cara yang demikian akan menjenuhkan dan dapat menghilangkan ketertarikan peserta didik untuk belajar Pendidikan Agama Islam.

Selain hal di atas pada usia siswa Sekolah Dasar khususnya siswa kelas II merupakan usia masa bermain yang identik dengan bentuk-bentuk permainan yang menyenangkan, melalui sarana bermain, mereka dapat belajar tentang banyak hal dari lingkungannya.
Berdasarkan hasil riset, mengajarkan anak melalui pendekatan belajar sambil bermain (play and learn), jika diterapkan dengan benar pada anak, hasilnya secara nyata dapat memengaruhi perkembangan kecerdasan, kreativitas, dan tingkah laku sosial anak.
Melalui permainan, suasana kondusif dapat diciptakan. Membangun konsentrasi anak untuk dapat berpikir, bertindak lebih baik dan lebih efektif. Sebab, kegiatan akan terfokus dan dinamis. Terfokus dengan materi yang akan diberikan kemudian, sehingga anak merasa perlu belajar dalam suasana tidak menjemukan. Dinamis dalam mengikuti kegiatan belajar, tidak terpaksa karena kurang bergairah, ataupun tidak berminat terhadap kegiatan belajar itu sendiri.
Bermain dan belajar seringkali dibedakan. Padahal, bermain sesungguhnya adalah kemampuan belajar itu sendiri. Sejak kecil manusia mengenal banyak permainan. Dengan bermain manusia belajar mengenal sesuatu yang ada disekitar kita atau justru membayangkan permainan yang dilakukan di luar alam pikiran seolah-olah menjadi manusia yang mandiri.
Permainan dapat membuat kemampuan berpikir anak lebih “dalam” untuk mencerna hal-hal yang konkret. Dengan bermain, seorang anak membangun kesadaran yang lebih berani. Karena kesadaran adalah bapak dari khayalan yang dibangkitkan. Melalui bermain itulah anak memperoleh berbagai kemampuan seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan berbahasa, kemampuan bersosialisasi, kemampuan memanajemen emosi dan berkemampuan berpikir logis-matematis.
Belajar macam apa yang di dalamnya sekaligus bermain? atau, bermain macam apa yang di dalamnya sekaligus belajar? 
Salah satu alternatif yang bisa dilakukan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu dengan penerapan Bermain Sambil Belajar Melalui Pendekatan Permainan Edukatif Berbasis Komputer. Penggunaan Model ini diharapkan agar materi pelajaran Pendidikan Agama Islam dapat mudah dipahami dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Berbagi Tak Akan Rugi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger